Emosi Dalam Kaos


Kediri, 30 Juli 2010

Banyak sekolah berlomba-lomba untuk ikut berpartisipasi menyalurkan kreatifitas, ide-ide cemerlang, dan karya yang bernilai orisinil. Hari ini, Kamis 29 Juli 2010 pukul 11.05 merupakan ajang pemilihan bakat poles-mempoles. Karya-karyanya sungguh menawan, ada yang berjudulkan Save Our Earth, I’m Going to Change The World, Belajar Terus Masa Depan pun Terurus, dan masih banyak lagi. Mereka sangat antusias mengikuti lomba tersebut seakan-akan mereka yakin akan menjunjung nama sekolah melalui lomba tersebut. Lomba ini berlangsung sangat menegangkan di dalam gedung IKCC.

Dalam membeli bahan – bahan untuk memoles, para peserta membelinya secara swadaya. Namun, mereka mendapat kaos sebagai media untuk melukis dari panitia. Mulai dari cat minyak, kuas, alas kanvas, dan alat – alat yang lain mereka membawa masing – masing dari rumah. Mereka mencurahkan emosi mereka dalam sebuah kaos, baik itu kemarahan yang membara, semangat yang menggebu-nggebu, maupun suka cita yang berlipat ganda.

Terlihat para peserta lomba berhamburan meninggalkan karyanya pada pukul 13.15 WIB. Setelah selesai, karya – karya mereka dikeringkan di halaman Gedung IKCC. Sambil dikeringkan, pengunjung pun segera mengelilingi karya yang mereka idam-idamkan saat lomba berlangsung. Meskipun waktu pengerjaannya maksimal dua jam, tampak satu dua karya yang belum dilesaikan.

Selang 15 menit, juri pun beraksi untuk memilah kaya-karya yang terbaik. Hanya dalam waktu 15 menit juri tersebut dapat menyeleksi 62 karya dari 48 sekolah se-Eks Kaisidenan Kediri. Itu berarti persaingannya sangat lah ketat karena 62 karya hanya diambil tiga karya terbaik. Sehingga tak salah jika mereka “Do The Best” untuk sekolahnya.(dap)

My Future My Obsession


Hidup di Luar Angkasa, Mengapa Tidak?
Kediri, 28 Juli 2010
Dari zaman dahulu sampai sekarang, manusia hanya bertempat tinggal di satu planet, yaitu bumi. Tak pernah terbayangkan, jika suatu saat bumi tidak bias lagi dijadikan tempat tinggal. Hal ini banyaknya fenomena alam yang membuat bumi kita banyak mengalami kerusakan, seperti: global warming, kebakaran hutan, lumpur lapindo, dan lain-lain. Selain itu, tingginya angkan kelahiran tiap tahun membuat bumi kita menjadi kewalahan untuk menampung banyaknya penghuni. Hal ini membuat manusia tentang bagaimana cara, agar tetap bias bertahan hidup di bumi ini.

Fikruna MTsN Kediri 2 memiliki cara lain sebagaia alternatif untuk tetap bias bertahan hidup . mereka berobsesi bertempat tinggal di luar angakasa.cara ini memang tergolong unik dan menarik. Saat ini, banyak ilmuwan yang meniliti munculnya planet-planet baru di antariksa. Salah satunya adalah Planet Nibiru.

Lantas, bagaimana cara memindahkan begitu banyak manusia di bumi ke planet baru?? Nah, selain berobsesi hidup di planet lain, fikruna juga berobsesi membuat roket-roket besar yang dapat mengantarkan manusia menuju planet baru. Hebat bukan…???

Ada peribahasa mengatakan “Sedia payung sebelum hujan”, hal ini berarti kita harus selau mengantisipasi adanya hal-hal yang akan terjadi di masa mendatang. Walaupun para ilmuwan sedang meniliti tentang adanya planet baru, tidak ada salahnya jika kita tetap menjaga dan melestarikan bumi kita dari hal-hal yang dapat merusak keindahan bumi kita, sehingga manusia dapat bertempat tinggal selamanya di bumi.(dap)

Uniknya Musik Accoustic


Kediri, 30 Juli 2010

Alunan suara – suara merdu musik accoustic terdengar dari dalam Gedung Induk IKCC. Hari ini 13 band se-Eks Karesidenan Kediri mengikuti ajang Band Accoustic untuk gelombang kedua. Pukul 13.30 WIB, alunan musik mulai terdengar keras, itulah tanda dimulainya Accoustic Band Contest.

Acara dibuka oleh pertunjukkan dari SMA Wakhidiyah. Selanjutnya, acara tetap dilanjutkan oleh berbagai band yang menyanyikan dua lagu, satu lagu daerah dan untuk lagu kedua lagu bebas. Mereka boleh membawakan lagu ciptaan sendiri untuk lagu yang kedua.

Acara ini berlangsung selama lebih kurang 3 jam. Setiap band mempunyai waktu tampil maksimal 15 menit. Musik-musik yang mereka bawakan sangat unik, karena mereka mengaransemen lagu daerah Indonesia dan lagu bebas lainya. Alat musik mereka pun juga sangat unik dan beragam, mulai dari menggunakan galon, ecek-ecek, hingga kendang. Alat-alat musik tersebut dipadukan dengan alat musik modern seperti gitar dan biola. Setiap band mempunyai 6 sampai dua belas personil. Setiap personil mempunyai tugas masing - masing dan mereka harus berasal dari satu sekolah.

Dalam ajang ini, ada tiga juri yang melakukan penilaian. Mereka adalah Bapak Muklis, Bapak Kusniawan, Bapak Riswan. Kriteria penilaian juri meliputi vokal, harmoni, performance, aransemen, improvisasi, dan skill.

Meskipun hujan deras menyelimuti sebagian Kota Kediri, acara tetap berlangsung dengan meriah. Para pengunjung terus berdatangan, sedangkan para peserta bersemangat mengikuti ajang tahunan ini.(dap)